NEWS SITES

E-mail: redglobalcybermedia@yahoo.com

   Redaksi  Globalnews  |  Hotline: (022) 7104720  - 0815 7272 6820  

Galeri  |  Profil  |  Konsultasi   |  Sulap  |  Humor  |  Astrologi  |  Teknologi  Selebriti  Koleksi Dongeng  

Telkomsel


Senin 19 November 2007
PERPAMSI (PERUSAHAAN AIR MINUM SELURUH INDONESIA) MENGGELAR RAKERNAS DI JAKARTA

Jakarta (Global News)

Guna membahas agenda forum tahunan dan mengevaluasi pelaksanaan program -program yang disusun baik di tingkat DPD maupun tingkat DPP, bertempat Hotel Harris Jakarta-Selatan , pada 15-16 November 2007 PERPAMSI(Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) menggelar agenda Rapat Kerja Nasional yang dihadiri kurang-lebih 100 anggota dari utusan Dewan Pengurus Daerah PERPAMSI, yang dibawah koordinasi Dewan Pengurus pusat Perpamsi.Rapat Kerja Nasional ini juga membahas program-progran yang telah berjalan, kendala-kendala yang dihadapi dan langkah-langkahnya apa yang  akan diambil selanjutnya demi peningkatan kinerja PDAM selaku anggota.

Pada pertemuan RAKERNAS para tukang ledeng ini  rencananya dibuka oleh Menteri Pekerjaan  Umum yang sekaligus akan memberikan  pengarahan seputar  dunia air minum dan sanitasi di Tanah Air, dan sebagai pembicara dalam Rapat Kerja Nasioanal ini yang digelar selama 2 hari yaitu Ketua Dewan Penasihat Perpamsi Prof.Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, juga akan tampil Direktur Pengelolaan Penerusan Pinjaman((P3) Departemen Keungan, Direktur Pengawasan BUMD Badan Pemeriksa Keungan dan Pembangunan(BPKP), Direktur Utama Dana Pensiun Bersama Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia(DapenmaPamsi)dan Direktur Administrasi dan Pendapatan Daerah Departemen Dalam negeri.

Semua program yang disusun berkaitan erat dengan 1001 permasalahan yang dihadapi PDAM , yang menyebabkan PDAM sulit berkembang selama ini, kalau ditarik benang merahnya , permasalahan-permasalahan itu semua bermuara pada isu global dan isu nasional menyangkut air minum yang sering mengemuka dalam berbagai forum Internasional maupun Nasional, selain itu program-program di tingkat  DPD maupun DPP tentu berkaitan dengan upaya penigkatan kinerja PDAM seluruh Indonesia yang kini berjumlah sekitar 320 ini  yang berkembang karena setiap ada pemekaran wilayah, cenderung diikuti pemekaran PDAM.diketahui pula secara global ada komitmen dari sekitar 180 negara termasuk Indonesia yang dicetuskan tahun 2002  di Johannesburg, Afrika Selatan menyangkut berbagai  bidang kehidupan umat manusia, komitmen itu tertuang dalam apa yang dinamakan MDGs(Millennium Development Goals) target yang harus dicapi tahun 2015 dalam  berbagai bidang kehidupan manusia, salah satu butir MDGs  itu  menyangkut  ketersediaan air minum dan sarana sanitasi yang menyatakan, bahwa terhitung tahun 2015 hendaknya separuh penduduk atau warga setiap negara yang selama ini tidak punya akses air minum dan sarana sanitasi yang memadai hendaknya sudah terlayani, secara nasional terget tersebut  masih harus ditambah dengan pencapaian khusus seperti tercantum dalam PP 16 tahun 2005 yakni kalau selama ini PDAM baru berani menyatakan produk yang dihasilkannya air bersih, terhitung 2008 seyogiannya sudah bernama air minum.

Jadi dalam Rakernas ini dibahas juga bahwa mampuhkan Indonesia mencapai target MDGs ini, oleh karena itulah dalam Rapat Kerja Nasional  yang diadakan di Jakarta hanya sebatas penyediyaan air minum dengan system perpipaan, target itu memang tidak sepenuhnya dipikulkan kepada para tukang ledeng, karena pemerintah sendiri pun punya program khusus untuk itu sesuai dengan amanat undang-undang yang menyatakan bahwa penyediyaan air minum bagi warganya adalah tanggung jawab pemerintah,posisi PDAM seluruh Indonesia sekarang dalam rangka pencapaian MDGs itu jelas masih sangat jauh, cakupan pelayanan PDAM seluruh Indonesia dewasa ini baru mencapai 27% dan baru segelintir PDAM yang cakupannya sudah memenuhi target MDGs itu, yakni 80% untuk perkotaan dan 60 % tingkat pedesaan.

Dari segi kualitas yang dihasilkan instalasi pengolahan PDAM sesungguhnya sudah memenuhi syarat sebagai air minum bila mengacu kepada persyaratan permenkes no  907/2002, tetapi begitu air minum itu masuk ke jaringan transmisi, lalu ke jaringan distribusi, belum lagi ke jaringan pipa pelanggan sendiri yang kondisinya macam-macam, sulit untuk mempertanggungjawabkan air itu sebagai air minum.harus diakui masih panjang dan masih sangat berat perjalanan menuju target  tersebut diatas , terlalu banyak kendala yang masih harus disingkirkan, menyebut sebagian diantaranya, utang masih tertunggak karena tidak  mampu membayar(akumulatik sekitar Rp 6 triliyun), SDM plus manajemen  yang belum sepenuhnya profesional, masih ada intervensi Walikota/Bupati/DPRD di sebagian besar PDAM , tarif masih jauh dari full cost recovery(menutupi biaya secara penuh),dan yang tak kalah berat, sumber air baku di samping makin lagka kian hari kian tercemar.(danny tobing/globalnews.com)